Deserve Better

"Di saat seperti ini kesabaran kita diuji, nak jangan lupa sholat, ngaji, baca sholawat, Ingat Allah dan Rosul-Nya." Kata Mama.

Apa memang kata-kata Mama diciptakan oleh Allah untuk menenangkan segala pikiran yang kusut dan hati yang gundah? Bagaimana pun hubungan anak dengan Mama, tetap saja, Mama itu obat paling mujarab.

Kala hal-hal tak diinginkan datang menderu menerobos rasa yakin hingga nyaris merubuhkan ragu, Allah memang wadah mengadu. Tapi mungkin, Mama adalah jembatan penenang yang Allah kirimkan di bumi ini selain pelukan hangat dari dia (si Kembaran).

"You deserve better." Lalu apa tolak ukur 'better' itu? Apa parameternya? Mungkinkah memiliki skala dalam angka?

Kita ngga tau, selain diri sendiri.

Yang saya pahami sejauh ini, waktu bukanlah variable penentu atas suatu keyakinan. Pandangan dan obrolan pertama tidak serta merta dapat dijadikan kesimpulan atas orang lain, lebih-lebih jika kita belum mengenalnya lebih dekat. Jangan sok tau.

I'm sitting on the fence.

Rasanya wajar. Wahai diri, wajar untuk kamu mencari banyak sudut pandang agar apa yang kamu yakini semakin kuat dan kokoh. Kamu perlu benar-benar serius menerima dan menjalankan akan apa yang dihadapi saat ini. Hati itu Allah yang punya, percaya aja sama Allah. Yang sabar, ya. Perlahan tapi pasti. Dibantu kok sama Allah, tetap sediakan lahan ikhlas untuk segala macam kemungkinan. Biar Allah yang menumbuh suburkan bunga-bunga bermekaran di dalam dada itu. 


Komentar