Nikmat Tak Hingga, Tanpa Bayar
Diantara ribuan hari yang telah kulewati, ada masa dimana aku jatuh tersandung pilu. Walau hati sudah berusaha ku jaga sebaik mungkin, ia terus lantang berkata, "aku rapuh".
Pertolongan pertama, kulakukan dengan pengakuan. Pengakuan bahwa aku hanyalah manusia dengan banyak keterbatasan yang tak kuasa atas hati yang mudah sekali dibolak-balikkan.
Pertolongan kedua, kulakukan dengan memohon maaf. Memohon maaf kepada diri sendiri yang seringkali menjadi korban kemarahan pertama kali.
Pertolongan ketiga, kulakukan dengan penerimaan. Menerima dengan lapang dada bahwa aku manusia yang tidak sempurna yang bisa berlaku salah.
Pertolongan keempat, kulakukan dengan cara berterima kasih. Terima kasih kepadamu, wahai diriku yang sudah berjuang hingga titik ini. Terima kasih sudah berusaha menebar benih-benih kebaikan yang semoga saja bisa manfaat untuk banyak orang. Terima kasih sudah mau berlelah-lelah belajar, walau terkadang kondisi tak memungkinkan. Terima kasih sudah bersedia meluangkan waktu untuk memanjatkan do'a dan berserah. Terima kasih atas segalanya!
Pertolongan kelima, juga kulakukan dengan terima kasih, namun ditujukan untukmu orang terkasih. Jika kamu sering menyebutkan namaku didalam do'a, membantuku meraih mimpiku, menolongku dalam kesulitan, terlibat dalam senang dan sedihku, lalu membaca pesan ini, maka benar pesan ini kusampaikan untukmu. Terima kasih ya sudah berbisik kepada Tuhan, mendo'akan kebaikan untukku. Terima kasih sudah ikut memperjuangkan mimpi-mimpiku walau banyak sekali rintangan dan keraguan semesta. Terima kasih sudah bersedia menolongku disaat raga ini bahkan tak sanggup tuk bergerak. Sekali lagi, terima kasih ya sudah bersedia terlibat dalam senang dan sedihku! Semoga Tuhan berkenan untuk membalas iktikad baikmu.

Komentar
Posting Komentar